Obrolan Seru Pelog Temor, Lengger hingga Ludruk Jember, Sebuah Warisan Budaya yang Masih Bertahan
Obrolan Seru Pelog Temor, Lengger hingga Ludruk Jember, Sebuah Warisan Budaya yang Masih Bertahan
Oleh: Para Pegiat dan Pelaku Budaya di Warung Kopi Balai RW Institute
“Man Leseg dan lenggernya iku kancaku ngopi neng stasiun dan pasar Tanjung, wes!” canda Partu Sukarto* sambil tertawa. Obrolan santai di antara para pecinta seni ini tak hanya sekadar guyonan, tapi juga menyentuh sejarah kesenian lokal yang mulai terlupakan. Salah satunya adalah Gending Pelog Temor—sebuah komposisi musik khas yang diyakini berasal dari budaya Madura, khususnya wilayah Tapal Kuda (Jember, Bondowoso, Situbondo). Uniknya, meski dinamakan “Pelog”, gending ini tetap diiringi gamelan slendro, bukan laras pelog seperti di Jawa.
“Pelog Temor itu nama gending kuno yang dikenal orang Madura dari Sumenep hingga Tapal Kuda. Sayang, penciptanya sudah tidak diketahui,” jelas Cak Cid**, menambahkan bahwa setiap daerah punya cengkok (gaya) dan geretan (alur musik) yang berbeda. Menurutnya, Jember Utara menyimpan banyak tokoh seni kejung (drama tradisional) dan ludruk, sayangnya kurang terekspos media atau peneliti.
Tak ingin sejarah hilang begitu saja, Liffano Ajja Hey***—keturunan seniman ludruk—menyampaikan kisah turun-temurun. “Pelog Temor itu hasil aransemen almarhum Pak Leseg bersama nenek moyang kami. Di Sumenep justru tak ada Pelog Temor, yang ada Angleng Sepolo atau Gunung Sari,” tegasnya. Liffano juga menyebut nama seniman legendaris seperti Tali (ayahnya) dan Senima (ibunya) yang aktif di dunia ludruk Jember. “Kalau mau tahu asalnya, tanya ke maestro ludruk Tapal Kuda. Di Sumenep, ludruk pun tak ada—yang ada ketoprak!”
Cak Cid lantas melengkapi dengan cerita sejarah: sebelum kemerdekaan, di Desa Biting, Jember, sudah ada kelompok ludruk Roso Rumongso pimpinan Mbah Ngatiman (leluhur Pak Amat). “Pak Leseg waktu itu masih jadi ngelengger (pemain ludruk keliling), belum mendirikan grup sendiri. Saksi sejarahnya masih ada, seperti Pak Yul, tukang corongan (sound system) di Bedadung yang pernah bekerja di era 1940-an,” paparnya.
Meski banyak tokoh seni telah tiada, warisan mereka masih hidup. Keturunan Pak Leseg dan para seniman ludruk lama masih aktif berkarya, bahkan gamelannya pun terawat. “Alhamdulillah, alat gamelannya masih ada,” kata Liffano. Cak Cid berharap, Pemerintah Daerah Jember bisa lebih memperhatikan kesenian ini. “Sejarah perludrukan Jember perlu diteliti dan diangkat dalam narasi ilmiah, biar tak punah,” tandasnya.
Obrolan ini mengingatkan kita: di balik hangatnya guyonan, obrolan dan secangkir kopi, ada ribuan cerita budaya yang tersematkan. Seperti kata mereka: “Jangan cuma nongkrong, tapi lestarikan!” 🤲❤️ dan obrolan ini diolah dan dirangkum dari percakapan dan komentar di akun facebook salah satu founder Balai RW Institute https://www.facebook.com/gunawan.trip [IAS]
*Cak Partu Sukarto adalah salah satu penyiar utama di Radio Suara Akbar Jember, sebuah stasiun radio yang telah mengudara sejak tahun 1960-an dan salah satu anggota kentrung Joss ini sekarang aktif di Rumah Budaya Pandalungan Jember
**Cak Cid juga biasa dipanggil Cak Sid, atau yang dikenal sebagai Abdurrasyid, adalah seorang praktisi macapat di Jember. Ia punya keinginan melestarikan dan mempromosikan tradisi lokal, khususnya melalui seni tembang macapat melalui Sanggarnya, Sanggar Umah Wetan
***Liffano Ajja Hey atau Cak Alip, adalah seniman ludruk dan pernah mengemas pertunjukan 'Al Badar Mahajaya, dengan konsep musik, ada drama-nya. Ada cerita-nya seperti ludruk. Ia juga aktif di DKJ untuk mengangkat ludruk Jember
#LudrukJember #LenggerJember #PelogTemor #BudayaTapalKuda
Komentar
Posting Komentar